web analytics
Home » Blog » Merayakan Ibu Bangsa
Merayakan Ibu Bangsa

Merayakan Ibu Bangsa

DOI                : N/A
Penulis          : I Gusti Agung Ayu Ratih, Martin Suryajaya, Melani Budianta, Siti Maemunah
Tahun            : 2016
URL                : https://repositori.kemendikdasmen.go.id/29956/1/MERAYAKAN%20IBU%20BANGSA.pdf
Annotator     : Try Suriani Loit Tualaka

Setelah membaca tulisan Siti Maemunah ini, saya merasa kisah perjuangan Aleta Baun benar-benar dihadirkan dengan cara yang hidup dan otentik. Artikel ini bukan sekadar laporan akademik, tetapi seperti percakapan yang membawa suara Aleta sendiri ke hadapan pembaca. Dari situ saya bisa merasakan bahwa perjuangan perempuan adat Mollo mempertahankan hutan bukan hanya tentang lingkungan, melainkan juga tentang tubuh, identitas, dan martabat mereka.

Hal paling menarik bagi saya adalah bagaimana kosmologi Mollo digambarkan. Masyarakat Mollo memandang alam sebagai bagian dari tubuh manusia: batu sebagai tulang, tanah sebagai daging, air sebagai darah, dan hutan sebagai kulit. Bagi saya, konsep ini sangat kuat sekaligus menyentuh, karena menunjukkan bahwa merusak alam sama artinya dengan melukai tubuh manusia dan komunitas. Saya jadi melihat bahwa perlawanan mereka bukan sekadar soal lahan, tetapi soal mempertahankan hidup dalam arti yang paling dalam.

Strategi “menenun di tambang” menurut saya adalah simbol perlawanan yang luar biasa. Aktivitas menenun yang biasanya dianggap domestik dipindahkan ke ruang publik, tepat di jantung aktivitas tambang. Itu membuat menenun bukan lagi sekadar pekerjaan rumah, tapi pernyataan politik dan identitas. Membayangkan perempuan Mollo duduk menenun berbulan-bulan di lokasi tambang membuat saya sadar bahwa perlawanan bisa dilakukan dengan cara yang damai, penuh makna, namun tetap tegas menolak kapitalisme ekstraktif.

Tulisan ini juga menampilkan perjalanan hidup Aleta yang penuh transformasi: dari aktivis yang diburu aparat, kemudian menjadi penerima penghargaan lingkungan internasional, hingga masuk ke ranah politik formal sebagai anggota DPRD. Menurut saya, ini memperlihatkan bahwa perjuangan bisa bergerak dari basis komunitas ke panggung global dan formal, tanpa harus meninggalkan akar. Justru pengalaman Aleta menunjukkan bahwa suara perempuan adat bisa menembus berbagai ruang, dari desa kecil hingga forum internasional.

Namun, saya juga melihat ada keterbatasan dalam tulisan ini. Aleta memang digambarkan sangat kuat sebagai ikon, tetapi sisi kolektif masyarakat Mollo sendiri terasa kurang tergali. Saya jadi bertanya-tanya bagaimana peran perempuan lain di sekitarnya, atau bagaimana dinamika internal di komunitas ketika menghadapi tambang. Meski begitu, saya tetap menilai artikel ini penting, karena berhasil memperlihatkan bagaimana figur perempuan adat bisa menjadi simbol sekaligus motor gerakan yang membawa isu lokal ke wacana global.

Secara keseluruhan, bagi saya tulisan ini bukan hanya tentang Aleta Baun, tetapi tentang cara perempuan adat Mollo menegaskan diri melalui budaya, spiritualitas, dan aksi damai. Artikel ini mengingatkan bahwa perjuangan lingkungan bukan hanya urusan ekologis, tapi juga soal keadilan sosial, gender, dan politik. Dengan menenun di tambang, perempuan Mollo menunjukkan kepada dunia bahwa resistensi bisa dilakukan dengan cara yang penuh makna budaya, dan itu justru yang membuat pesan mereka menggema hingga ke panggung internasional.

Refleksi yang paling saya rasakan setelah membaca tulisan ini adalah betapa kuatnya simbol budaya jika dijadikan alat perlawanan. Menenun bukan hanya aktivitas sehari-hari, tetapi juga simbol kehidupan, identitas, dan kelanjutan generasi. Ketika aktivitas itu dipindahkan ke lokasi tambang, seolah ada pesan tegas: alam dan budaya tidak bisa dipisahkan. Saya merasa pesan ini sangat relevan bagi banyak komunitas adat lain di Indonesia yang menghadapi ancaman serupa dari industri ekstraktif.

Selain itu, tulisan ini juga mengingatkan saya bahwa perjuangan perempuan adat seringkali tidak diberi tempat dalam narasi besar pembangunan. Aleta dan perempuan Mollo membuktikan bahwa mereka tidak sekadar “korban” eksploitasi, melainkan aktor utama dengan strategi yang cerdas dan berakar pada tradisi. Dari sini saya belajar bahwa pengetahuan lokal, yang sering dianggap kuno atau tidak modern, justru bisa menjadi landasan paling kuat untuk melawan sistem yang merusak.

Saya juga melihat bahwa spiritualitas punya peran penting dalam perjuangan ini. Konsep Mollo yang menyatukan tubuh manusia dan alam bukan hanya filosofi, tapi juga energi moral yang memberi keberanian. Saya jadi berpikir bahwa perjuangan lingkungan tidak akan cukup hanya dengan data ilmiah atau kebijakan, tapi juga harus menyentuh dimensi spiritual dan kultural, karena disitulah kekuatan komunitas bertumpu.

Akhirnya, bagi saya artikel ini bukan hanya catatan sejarah tentang Aleta Baun, tetapi juga pelajaran tentang bagaimana perempuan adat mampu mengubah aktivitas sederhana menjadi strategi politik yang kuat. Ia memperlihatkan bahwa perlawanan bisa lahir dari hal-hal kecil yang sarat makna budaya, dan ketika dilakukan dengan konsistensi, ia bisa mengguncang negara, korporasi, bahkan dunia. Membaca tulisan ini membuat saya yakin bahwa gerakan perempuan adat adalah salah satu kekuatan paling penting dalam menjaga masa depan lingkungan dan keadilan sosial di Indonesia.

Scroll to Top